View Poll Results: Menurut kalian Fanfic ini gimana?

Voters
4. You may not vote on this poll
  • Bagus, enak buat dibaca!

    3 75.00%
  • Lumayan lah...

    0 0%
  • Gk ada yg spesial...

    0 0%
  • Jelek, males gw bacanya

    1 25.00%
Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 11 to 15 of 15

Thread: Fanfic :: Ex. Galia : Trilogy

  1. #11
    Elmiv's Avatar
    Join Date
    Jul 2010
    Location
    Di belakangmu
    Posts
    54

    Default Chapter 8 :: Finding a Solution

    :: - Chp. 8 : Finding a Solution - ::


    >Sam’s POV<



    Setelah melihat Robert selamat dari pengejaran itu, hatiku lega sekali. Mungkin untuk pemuda lain seumuran dia, bisa-bisa suda tidak bisa kembali lagi. Tapi, aku sudah sangat yakin kalau Robert pasti bisa kembali karena dia adalah pemuda yang hebat.


    Kulihat dia kembali kemari dengan luka-luka dan badan yang kotor begitu. Aku berpikir sejenak “Kalau dia telah menjadi seorang buronan di kota ini, maka dia tidak bisa kembali ke rumahnya. Tapi dia juga butuh tempat untuk bernaung tapi dimana? Apakah aku bisa menampungnya kalau ia tinggal disini?”


    Walaupun aku bukan orang tuanya, tapi aku adalah pamannya. Aku juga keluarganya. Kutemui istriku yang sedang memilah baju bekasku untuk Robert. Sepertinya dia sudah selesai memilahnya dan bersiap untuk merapikan baju tersebut. Aku teringat Robert tadi pulang dengan lukan yang cukup parah.


    “Bu, ibu sudah menyiapkan baju untuk Robert?”

    “Iya, yah. Ini baju untuknya sudah siap” jawab Bibi Noni.

    “Oiya, Robert pulang dengan luka yang cukup parah. Apakah obat-obatan kita masih ada?”

    “Oiya, kalau perban sih masih yah, tapi untuk obat lukanya habis” jawab Bibi Noni.

    “Kalau begitu, ayah pergi ke kota dulu untuk membeli obat”

    “Iya, hati-hati, yah” jawab Bibi Noni.


    Aku langsung keluar rumah dan berlari menuju ke kota. Sambil menyusuri sawahku, aku terpikir tentang bagaimana Robert akan hidup selanjutnya. Kudengar sebelum dia memasukki kamar mandi sepertinya dia menemukan solusi. Tapi kira-kira apa rencana yang ada di pikirannya?


    Tanpa terasa aku sudah beberapa meter di depan gerbang kota. Kulihat gerumunan orang berada di alun-alun. Aku heran dan pergi ke alun-alun untuk melihat apa yang terjadi.


    “Apa!! Ini gawat, kalau aku ketahuan bahwa aku ini paman dari Robert, keadaanku bisa terancam. Untung saja Raimon dan yang lain tidak di eksekusi. Tapi bagaimana caranya untuk membebaskan dia dari penjara? Ahh, tapi yang penting Robert dulu.”


    Segera kupergi dari alun-alun dan menuju ke pasar. Walaupun hari sudah hampir malam, tapi pasar masih saja ramai. Walaupun beberapa pedagang sudah kehabisan dagangannya. Aku membeli obat untuk luka dan juga mengambil uang hasil jualanku yang kuserahkan ke salah satu anak buahku. Aku membagi hasil juga dengannya 70-30. Dia sama sekali tidak keberatan karena memang persentase ini cukup untuk menghidupinya.


    Di saat aku pulang, aku melihat papan poster yang ada di gerbang kota, dan ada foto Robert di sana. Poster ini sepertinya baru dipasang tadi. Di sana tertera foto Robert, ciri-cirinya, dan harga kepalanya. Hidup atau mati, siapapun yang menangkapnya akan mendapatkan 200 billing Golds. Gila, harga yang tinggi. Semua orang pasti akan berusaha untuk memburunya dengan imbalan harga yang tinggi itu. Aku harus segera pulang.


    >Robert’s POV<



    Cyuuurrr…


    Tetesan air membasahi tubuhku. Kubersihkan tubuhku dari bercak-bercak darah dan juga luka bekas pertarunganku. Luka-luka sesetan yang ada di tubuhku masih terasa sedikit perih. Tapi aku adalah seorang prajurit. Aku dilatih untuk semua ini. Aku harus bisa menahan rasa sakit ini.


    Tess tess tess


    Setelah selesai mandi, aku mengambil handukku dan mengeringkan tubuhku. Aku keluar dari kamar mandi. Bibi langsung menunjukkan kamar dimana tempat untukku dan di atas kasur sudah disiapkannya baju untukku.


    “Ya, semuanya sudah jelas. Rencanaku sudah jelas dan akan kulakukan apapun resikonya”


    Setelah selesai ganti baju, aku keluar dari kamar. Kulihat bibi sedang duduk-duduk di ruang makan dengan beberapa makanan sudah disiapkan di meja. Aku berjalan ke belakang rumah, ke halaman, tapi tidak menemukan paman.


    “Kau sedang apa mondar-mandir seperti itu, Robert?” tanya Bibi.

    “Ohh, Paman mana Bibi?”

    “Pamanmu sedang pergi ke kota untuk beli obat. Mari kita tunggu di sini untuk sejenak dan mensterilkan lukamu.” Jawab Bibi.

    “Baiklah Bi”


    Aku duduk di tikar bersama Bibi. Bibi lalu mengobati lukaku dengan mensterilkannya agar tidak terjadi infeksi. Disaat Bibi hampir selesai mensterilkan semua lukaku, Paman datang.


    “Aku pulang!” seru Paman.

    “Selamat datang” jawab aku & Bibi.

    “Ini, aku datang membawa obat untukmu, Robert”

    Bibi langsung mengobati lukaku dan membalutnya dengan perban.


    SET


    “Ya, dengan begini, selesailah sudah. Nah, sekarang, ayo kita makan bersama” seru Bibi.

    “Terima kasih, bi” jawabku

    “Ya” jawab Bibi sambil tersenyum.


    Setelah makan bersama-sama, Paman menanyakan kepadaku apa rencana yang akan aku lakukan nanti. Sepertinya dia mendengarku saat aku menemukan solusi saat aku mau mandi tadi. Akhirnya aku ceritakan rencanaku.


    “Jadi, begini Paman. Aku akan meninggalkan kota ini dan pergi ke Negara lain”

    “Meninggalkan Negara ini, tapi bagaimana? Kau sudah menjadi buronan. Nilai buronanmu adalah 200 Billing Golds! Kau pasti sudah dicari-cari dan menjadi buronan besar!” seru Paman.

    “200 Billing Golds, nilai itu tidak akan mencapai Negara lain. Untuk nilai buronan yang bisa mencapai tingkat internasional adalah min. 1000 Billing Golds. Jadi, tidak akan masalah jika aku pergi dari Negara ini”

    “200 Billing Golds perlu menjadi pertimbangan, Robert. Memang tidak masalah jika kau meninggalkan Negara ini. Tapi bagaimana dengan keluargamu?” jawab Bibi.

    “Itulah yang aku pikirkan. Mungkin setelah aku pergi dari Negara ini aku akan sering mengirim surat pada Paman & Bibi untuk kabar”

    “Dan bagaimana kau bisa berpindah Negara? Negara Remembrance ini akan memburumu. Kau harus terus sembunyi. Tapi, syukurlah kalau kau bisa keluar dari Negara ini dengan aman. Tapi, perbatasan dijaga dengan tembok yang membatasi kedua Negara” jawab Paman.

    “Aku akan pura-pura menjadi pedagang. Mengambil passcard pedagang internasional lain, dan tinggal disana. Selesailah”

    “Kalau begitu, Paman hanya bisa mendukungmu sampai kau sudah berhasil menjadi pedagang. Karena aku juga seorang pedagang. 2 hari lagi, alias hari Sabtu, aku biasa mengirim daganganku ke Negara Alegio. Kau bisa menjadi pengirim daganganku sebagai jalanmu” jawab Paman.

    “Ahh, tepat sekali! Terima kasih Paman! Kalau begitu, 2 hari akan kugunakan dengan bijak”

    “Oya, tadi dari berita di kota. Keluargamu sudah dipenjara oleh pemerintah. Tapi untung saja, mereka tidak akan di eksekusi” seru Paman.

    “Ahh, sial, kini mereka benar-benar mendesakku dengan memenjarakan keluargaku. 2 hari, aku akan membebaskan dan mengamankan mereka. LIHAT SAJA, RASA BENCI LUIS AKAN KUAKHIRI”


    - To Be Continued -

    Last edited by Elmiv; 05-27-2017 at 04:44 PM.

    KUNJUNGI FANFIC SAYA
    Ex. Galia : Trilogy

  2. #12
    Honoured Retiree betty la fea's Avatar
    Join Date
    Jul 2010
    Location
    UNDER THE RAIN
    Posts
    977

    Default

    Mo komen tapi baru baca dua chapter. Entar aja dah kalo sudah semua.


  3. #13
    Elmiv's Avatar
    Join Date
    Jul 2010
    Location
    Di belakangmu
    Posts
    54

    Default

    Nih fanfic udah ditinggal bertapa selama 4 tahun
    Rencananya mau gue lanjutin lagi...
    Dan yah, mungkin bakal banyak perubahan dalam penulisannya... (semoga aja bakal lebih baik)

    KUNJUNGI FANFIC SAYA
    Ex. Galia : Trilogy

  4. #14
    Elmiv's Avatar
    Join Date
    Jul 2010
    Location
    Di belakangmu
    Posts
    54

    Default Chapter 9 :: Disguise

    :: - Chp. 9 : Disguise - ::



    Rencana untukku pergi dari negara ini akan dilaksanakan dua hari lagi. Aku tak tahu apakah aku harus mengucapkan salam perpisahan pada kedua orang tuaku serta kekasihku atau tidak.


    Paman memberitahuku kalau poster buronan diriku telah terpasang di kota, dan tentu hal itu membuatku mustahil untuk masuk ke kota sembarangan. Atau mungkin saja, aku bisa menyelinap masuk dengan menutupi mukaku dengan jubah? Ah tidak, kurasa itu malah akan membuatku terlihat lebih mencurigakan.


    Saat aku tengah memikirkan cara untukku masuk ke dalam kota, seseorang mengetuk pintu kamarku. Bersamaan dengan suara serak yang lantang, seorang pria yang telah kukenal itu masuk.


    “Robert, Paman masuk ya.”


    Ia telah berpakaian dengan rapi layaknya seorang pebisnis kalangan atas. Kemeja putih yang dibalut dengan rompi cokelat, celana katun cokelat berhiaskan sabuk kulit hitam, serta sebuah topi merah marun di kepalanya dan tak lupa sepatu bot yang menghiasi kakinya, sangat cocok dipakai oleh pria paruh baya bertubuh agak bulat itu.


    “Hari ini kita akan ke kota. Kita akan menyamar. Aku sudah biasa ke kota seperti ini untuk berbisnis gandum. Kau akan menjadi kusir gerobaknya, lalu aku akan pergi berbisnis. Pada saat itu, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan.”

    “Ah, baiklah. Aku akan segera bersiap.”


    Sungguh sebuah kesempatan yang bagus. Dengan ini mungkin aku bisa memberitahukan keadaanku pada mereka.


    Aku segera bergegas mempersiapkan diri. Aku mengganti bajuku agar terlihat cocok seperti seorang kusir. Dengan baju kain putih biasa, celana kain cokelat, ikat pinggang kulit, sepatu sandal tali, dan topi jerami, serta tak lupa aku membalut itu semua dalam jubah pengembara.


    Semua sudah siap. Gerobak paman juga telah siap di depan rumah. Setelah beberapa saat mengangkut barang-barang ke dalam gerobaknya, kami pun berangkat menuju kota.


    Perjalanan dari kediaman paman menuju kota memakan waktu sekitar dua puluh menit. Gerbang kota sebelah barat daya mulai terlihat, orang-orang berlalu-lalang keluar masuk gerbang, serta beberapa penjaga memeriksa tiap-tiap mereka.


    Setelah mengantre beberapa saat, kini giliran kami untuk diperiksa. Paman pun turun dari kursi kusir dan menunjukkan sebuah kartu kecil kepada sang penjaga.


    “Ah, Tuan Sam, lama tak berjumpa. Bisnis gandum lagi?” sapa penjaga yang menerima kartu bisnis dari Paman Sam.

    “Yah, seperti biasa. Sudah lama aku tak ikut berbisnis ke kota. Hahaha.”

    “Ya, terakhir kali saya lihat anda untuk berbisnis mungkin dua bulan yang lalu? Ah, maaf sudah berlama-lama, silahkan masuk saja!”

    “Hahaha. Terima kasih.”


    Segera setelah Paman Sam kembali naik ke kursi kusir, kutarik tali kudanya dan masuk ke kota. Kota ini masih seperti biasanya. Bangunan-bangunan dari kayu berjejeran dengan rapi. Beberapa terdapat tanda toko di depannya. Kebanyakan bangunan di pinggiran kota adalah tempat tinggal warga. Setelah mulai mendekat ke alun-alun kota, bangunan-bangunan pemerintahan dan tentara berlantai dua atau tiga mulai terlihat.

    Tujuan kami kali ini adalah pasar. Sedikit ke Timur dari alun-alun kota, dan penjara, yang berada di daerah tentara di sebelah utara alun-alun. Telah sampai di pasar, kuhentikan gerobaknya dan mengikatkan kuda-kudanya di pohon terdekat.


    “Mulai dari sini, kita akan berpisah. Berhati-hatilah, Robert.”

    “Baik, Paman. Aku akan segera kembali!”


    Setelah berpamitan dengan Paman Sam, aku berjalan melalui gang-gang antar bangunan. Aku menghindari melewati jalan utama agar tak menarik perhatian. Aku sudah hafal betul jalur-jalur gang ini. Kuharap aku bisa menyusup ke penjara dengan aman.


    Setelah berjalan selama lima menit, kini aku telah berjarak dua blok dari penjara. Bangunan yang menghadap barat itu dikelilingi oleh tembok setinggi 2,5 meter dan di jaga oleh dua penjaga di tiap gerbangnya, yang mana terdapat gerbang barat dan gerbang utara. Aku mungkin bisa menyusup dengan memanjat tembok sebelah timur yang tak berpenjaga.


    Menyusuri gang menuju belakang penjara tersebut, aku tiba di tembok sebelah timur. Sebalikan dengan akademi di belakangnya, tembok penjara sebelah timur yang tak dijaga dibentuk runcing di atasnya. Namun itu bukan masalah. Dengan melompat ke tembok penjara dan akademi bergantian, aku bisa menyelinap ke dalam.


    Dengan suara ‘tap tap tap’ aku melompati tembok dan mendarat dengan aman. Setelah mendarat, dengan segera aku menyandarkan tubuhku ke dinding dan menengok sekeliling. Seorang penjaga mendekat ke arahku. Dan sebelum ia sempat menyadari keberadaanku, kupukul dia di bagian belakang leher hingga pingsan.


    Sebelum penjaga itu menyentuh tanah, aku menangkapnya agar tak menimbulkan bunyi yang bisa menarik perhatian. Lalu kupakai perlengkapan yang ia pakai dan menyamar menjadi penjaga. Tak lupa ia kuikat dan mulutnya kusumpal dengan kain.


    Armor yang dipakai para penjaga tidak terlalu lengkap, hanya armor ringan biasa yang menutupi bagian dada hingga perut, ditambah dengan sarung tangan, sepatu bot kulit dan helm. Dengan ini aku masuk ke dalam penjara dan mencari kedua orang tuaku. Setiap ada penjaga lain yang kulewati, hanya kuabaikan saja.


    Di dalam penjara ini semuanya terbuat dari batu. Tak semua sel di dalam penjara ini berpenghuni. Struktur bangunannya yang hanya berupa lorong lurus dengan kurangnya jendela membuatnya terlihat seperti suatu gua. Setelah menyusuri lorong, berbelok ke kanan dan menuruni tangga ke basement, akhirnya aku menemukan kedua orang tuaku.


    “Ayah, Ibu.”


    - To Be Continued -

    KUNJUNGI FANFIC SAYA
    Ex. Galia : Trilogy

  5. #15
    fathanalfajri123's Avatar
    Join Date
    Jun 2017
    Location
    Alam semesta
    Posts
    3

    Default

    Satu satunya fanfic yg hidup
    Terusin gan

Page 2 of 2 FirstFirst 12

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •